Langsung ke konten utama

Love Story

 Kusebut Ini Cinta


#partII


I knew I loved you then
But you never know
Cause I played it cool when I was scared of letting go
I knew I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you
Until were grey and old
Just say you wont let go
Just say you wont let go
Bayangku menerawang nembus kelangit-langit rumah, lagu Say You Won’t Let Go sejak tadi terus berputar dan membuat hayalan sendiri.
Sore itu,kamu begitu manis. Suaramu juga masih sama ditelinga, rasanya aku memang jatuh cinta. Aku mencintaimu Rey.
Widya memeluk bantal yang sedang ia timpahkan ke wajahnya, mengingat kejadian sore tadi tentunya. Rey datang ke Perpustakaan Umum, tidak disangka-sangka Lelaki Sajak itu datang menemuinya dan menanyakan pertanyaan yang formal.
Nafasku begitu lega, mengingat itu semua. Aku tidak ingin melupakan sweet moment itu bagaimana pun yang terjadi. Walau nantinya aku harus menyedot ingatan tidak penting, aku akan menyembunyikan memori ini. Selamanya.
Aku seperti manusia yang kehilangan akal, tersenyum sendiri. Berulang kali.
Biasanya tak segila ini, biasanya juga aku memikirkannya namun tak candu seperti sekarang. Duh rey, sering-sering main ke hati aku ya…
Belum sempat jauh memikirkannya, handphone yang sejak tadi tidak aku jamah bergetar. Terdengar ringtone Ariana Grande dengan lagunya Side To Side. Tanpa menunggu lama aku menslide layar bewarna hijau,lalu meletakannya didekat daun telinga. Tidak ada suara yang terdengar disana, aku melihat layar ponselku,nama Haikal terpampang disitu.
“Halo?” Dari seberang sana membuka suara duluan. Aku hanya berdehem sekali, aku tau apa yang ingin ditanyakannya. Setiap malam dia menelponku, hal ini sedikit menganggu rutinitas yang aku jalani.
“Udah makan,Wid?” dia bertanya dan kali ini suaranya putus-putus.
“Udah kok..” aku menjawab seadanya. Dia tampak diam sejenak, akupun juga sama. Perasaan itu mulai pudar, perasaan yang dulu peduli, dan perasaan yang sekedar dengan sahabat. Aku mulai memiliki perasan geli terhadapnya, ilfeel contohnya. Ya tuhan, apa yang terjadi denganku?
“Wid, kok diem aja? Aku nanya loh..”
“Ap..apa? nanya apa?” aku mulai tergagap,namun sedikit perasaan enggan merespon.
“Itu, udah belajar belum? Tadi ke Perpus ya?”
“Belum belajar, dan ini mau belajar. Iya ke Perpus kok…”
“Oh tadi aku ma…”
“Haikal, udah dulu ya? Aku dipanggil mama tuh, belum belajar. Bye!” aku mengakhiri pembicaraan kami, tidak berinti memang. Tapi entah apa yang membuat dia sangat rajin menghubungiku tiap malam. Mau itu menanyakan ‘udah makan belom?’ aish, seperti anak alay yang perhatian dengan pacarnya, tapi terkhusus buat Rey itu tak masalah. Karena dia adalah objek nyata buatku.
Setelah selesai belajar aku berbaring dikasur biru milikku, sudah pukul sepuluh namun mataku belum bisa terpejam juga. Aku juga bahkan sudah minum susu, dulu ketika aku masih kecil susah sekali untuk minum susu, mama sering sekali menakut-nakuti jika aku tidak menghabiskan susu buatannya. Katanya kamu nanti kalau gak minum susu tidurnya dikelonin kuntilanak. Padahal tidak mungkin, mimpi buruk itu pasti terjadi kapan saja. Bukan karena rutin atau tidak seseorang minum susu. Tapi aku tau, itu adalah cara mama agar aku rajin minum susu, soalnya jika aku tidak minum susu sebelum tidur maka aku sulit tidur, ya.. karena aku sudah terbiasa.
Aku berusaha untuk tidur, namun kali ini memang tidak bisa. Lantas untuk menghilangkan kebosanan yang sejak lima menit menyatu dalam diriku, aku bermain game diponsel. Aku menyalakan konektivitas.
1 pesan baru di facebook. Siapa? Biasanya tak ada pesan hingga selarut ini, biasanya juga yang mengirim pesan hanya teman-teman dekatnya saja, itupun tidak mungkin kelewat jam tidur. Aku sempat membiarkan pesan itu, namun nada dering pemberitahuanku telah berbunyi dua kali.
2 pesan baru di facebook. Aku menyanggal bahwa ini adalah Sherin yang meneror, hanya dia yang sering chatt malam hari, paling juga ingin menanyakan tugas.
Hai widya,aku Rey, ini facebook kamu ya? Aku ragu karena foto profilnya cuman satu,udah setahun pula. Kalau bener balas ya?
Pesan lima belas menit yang lalu.
Widya, berarti udah gak pake facebook ya? Tapi kok sering ngelike?
Aku terpaku sejadinya ketika melihat pesanmu Rey, aku tak menyangka. Kamu bahkan tidak canggung mengirimkan itu semua. Aku siap memabalasnya, dengan segala keberanianku. Namun apa yang kamu bicarakan,Rey? Kamu tampak aneh, kamu membuatku tidak bisa tidur hingga pukul dua, kamu begitu menyakiti hatiku.
****

Aku lari tergesa-gesa, aku terlambat pagi ini. Bagaimana tidak? Aku tertidur ketika pukul dua malam. Mataku saja masih sakit karena tidak cukup untuk tidur. Pastilah teman-temanku sudah marah padaku, apalagi bu Tila pasti sudah masuk. Pagi ini adalah jam pertamanya memulai pelajaran.
Aku menoleh kebelakang saat mendengar namaku disebut, kemudian aku melihat Rey memanggilku, kali ini tidak ada perasaan yang menjalar didalam hatiku, kali ini sungguh berbeda, aku menatapnya seperti biasa, datar.
“Wid, nanti jangan lupa ya? Oke??” ujarnya sambil tersenyum dan mengacungkan jempol tangan kanannya. Itu membuatku tertahan melihatnya, padahal Rey sudah berjalan membelakangiku. Kelasnya berbeda arah denganku.
“Lama banget sih? Kamu tau kita hampir kena hukum kalau lima menit lagi kamu terlambat” gerutu Sherin yang sejak tadi bertanya ‘kenapa aku terlambat’, namun aku mengacuhkan pertanyaan itu dan fokus ke pelajaran.
“Widya,kok bisa terlambat?” ucap Yaya,setengah berbisik dari bangku belakang. Aku hanya menggeleng pelan,tidak ada yang perlu di jelaskan, tidak ada. Sama sekali tidak.
Tidak ada yang menarik pelajaran hari ini, biasanya aku suka sekali pelajaran Bahasa Inggris,namun kali ini aku menolak mentah-mentah pelajaran itu,seperti ada pikiran yang menggangguku. Sepertinya, aku salah mencintai orang.
Ketika sudah istirahat, aku dan ketiga temanku duduk di koridor. Sedari tadi aku hanya diam, yang benar saja cinta membuatku lupa segalanya? Ah ini benar-benar pembodohan, aku mengepalkan tanganku. Mataku masih menatap lurus pot-pot yang berjajar rapi di koridor sekolah.
“Wid, dari tadi dipanggilin sama Rey,tuh. Melamun aja sih?” sentuhan tangan Pika menyadarkanku dari lamunan, lantas mereka bertiga menatapku heran. Sepertinya tatapannya seperti ini ‘ada apa Rey dan Widya? Mungkin Widya aneh karena Rey’ atau bisa jadi ‘Rey suka sama Widya, tapi Widya kan gak pernah pacaran, jadi dia bingung’. Jika benar mereka memikirkanku seperti itu, akan aku ceritakan semuanya hingga tuntas.
“Aku mau ngomong sama kamu sebentar.” Lantas aku mengikuti ajakan Rey yang menagajakku ikut dengannya.
“Gimana, bisakan Wid” aku hanya mengangguk setuju,layaknya kerbau yang dicucuk hidungnya.
“Jadi aku mau nembak dia di taman aja, kamu ikut ya? Buatin aku doodle art gambar foto dia yang aku kirim tadi malam.” Rey tersenyum dan mengeluarkan sejumlah uang,aku hanya bisa menatapnya penuh dengan kekecewaan.
“Berapa? Aku kasih dpnya dulu ya?”
“Gak usah Rey, nanti aja dibicarain. Aku masuk kelas dulu.” Tegasku sambil pura-pura bahagia, lalu segera membalikan badan tanpa tahu reaksi Rey.
“Widya” dia memanggil dan aku dengan bodohnya mau merespon panggilannya itu.
“Thanks ya Wid, kamu baik banget..” untuk keberapa kalinya aku pura-pura bahagia. Ya tuhan, ingin rasanya aku menangis. Aku telah menyukai orang yang salah dan aku dengan mudahnya mengatakan ini cinta. Aku mencintai manusia yang sama sekali tidak menyukaiku. Reyhan Alvaro, pria itu menyukai Mona, gadis viral disekolah cendrawasih. Memang sudah wajar seorang seperti Rey menyukai Mona. Dan aku? Apakah aku tidak dapat bahagia? Perasaan yang sudah ada lama juga bisa hancur dengan pernyataan yang hanya sekali diucapkan.
Apalagi yang ingin kamu mau Rey? Memintaku untuk membantumu mendekati wanita lain? Dan dengan bodohnya aku mau mengikuti itu semua? Sekali lagi, aku seperti dibius. Namun kamu menghancurkan pondamen hati yang telah lama aku bangun,hancur dalam semalam. Baiklah, seberapa besar aku mencintaimu itu tidak masalah dimataku,aku mulai belajar bahwa cinta itu tidak dapat dipaksa. Dan aku mundur mulai sekarang.

END

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Love Story

Kusebut Ini cinta


#partI
Semua itu datang tanpa di duga, datang tanpa rencana. Seperti di pagi yang selalu manis, aku menemukannya. Karena hidup hanya sekali, semua itu harus ku coba. Seperti hujan yang menerpa wajahku kemarin, tetesannya masih terasa di pori-pori wajahku, ku biarkan tetesan air itu menetes tanpa resah. Aku sih cewek pengagum dengan segala juta rahasia di hatiku. Aku sih cewek tanpa nama susah menjabarkan tentang isi hatiku. Tapi aku nyata tanpa fiksi, aku benar ada meski kerap hilang tanpa nama. Kehidupanku baru saja dimulai kemarin (sepertinya), aku lupa telah lama bersekolah dan sedang duduk di bangku kelas berapa aku ini? Ah sudahlah. Aku terlalu fokus padamu hingga diriku sendiri sering terabaikan, persetan dengan segala yang kuanggap sakit ini. Jangan hiraukan keberadaanku jika kau sangat terusik. Untuk saat ini,kau tidak sadar bahwa aku mencintaimu sejak dulu,Rey. “Hei wid, kamu ngapain disini ? bukannya sejak tadi udah bel masuk?” tanganku tersentak kaget, dengan spon…

Love Story

Apologize
Pagi yang cerah untuk awal bulan September, hari ini tidak hujan. Wanita itu menggenggam secarik kertas,tertanda tulisan di dalamnya. Matanya masih terfokus lurus menatap dedaunan kering di luar kaca mobilnya. Ada rasa yang berbeda dihatinya,namun perempuan itu tetap tidak bergeming. Tatapannya lurus kosong. Ada banyak bunga kamboja yang jatuh,silih berganti semilir angin bergantian menyapunya. Wanita itu lantas membuka pintu mobilnya, tangannya mengambil bunga yang tergeletak pasrah di bangku kemudi. Kaki sang wanita memijak rumput dan dedauan kering serta mengeluarkan bunyi yang bersamaan. Lalu dibalik pohon besar,ia bersembunyi dan menggigit bibir bawahnya. Nafasnya benar-benar tak beraturan, ada sesak didalam hatinya. Ketika hendak melanjutkan perjalanan, tanpa sengaja kakinya terkena ranting kayu yang tajam. Wanita itu meringis lalu memejamkan matanya, tanpa terasa air bening keluar begitu saja dari kelopak matanya. Bukan karena sakit, namun tekanan batin yang menyiksanya du…