Langsung ke konten utama

Love Story

Apologize

Pagi yang cerah untuk awal bulan September, hari ini tidak hujan.
Wanita itu menggenggam secarik kertas,tertanda tulisan di dalamnya. Matanya masih terfokus lurus menatap dedaunan kering di luar kaca mobilnya. Ada rasa yang berbeda dihatinya,namun perempuan itu tetap tidak bergeming. Tatapannya lurus kosong.
Ada banyak bunga kamboja yang jatuh,silih berganti semilir angin bergantian menyapunya. Wanita itu lantas membuka pintu mobilnya, tangannya mengambil bunga yang tergeletak pasrah di bangku kemudi.
Kaki sang wanita memijak rumput dan dedauan kering serta mengeluarkan bunyi yang bersamaan. Lalu dibalik pohon besar,ia bersembunyi dan menggigit bibir bawahnya. Nafasnya benar-benar tak beraturan, ada sesak didalam hatinya.
Ketika hendak melanjutkan perjalanan, tanpa sengaja kakinya terkena ranting kayu yang tajam. Wanita itu meringis lalu memejamkan matanya, tanpa terasa air bening keluar begitu saja dari kelopak matanya. Bukan karena sakit, namun tekanan batin yang menyiksanya dua tahun yang lalu. Pemandangan ini De Javu
De Javu  wanita itu mengikuti perkataan dewi batinnya, De javu.
Keadaan ini pernah di alaminya, wanita berkulit putih dengan pria berkulit sawo matang.
Badannya tinggi semampai,giginya rapi putih, rambutnya pendek sebahu serta matanya yang coklat. Susan Diandra.
*****
“Awh! Ranting sialan,menyebalkan!” desisnya dengan suara yang lantang lalu menyepak ranting itu dengan kasar.
“Kenapa?” belum menyelesaikan masalah, tiba-tiba muncul seorang lelaki. Bibirnya tersenyum setelah ia tertawa kekeh melihat wanita di depannya sedang kesakitan.
“Apaansih? Engga apa-apa kok..” sahutnya dengan wajah ketus dan menatap lelaki di depannya hanya dengan ekor matanya.
“Duh galaknya, sini aku bantu:” sambutnya lagi dengan terkekeh lalu berjalan mendekati si lawan bicara.
“Gak usah! Aku bisa sendiri.” bantahnya cepat lalu berjalan memunggungi lelaki itu.
“Susannnn…” wanita yang di panggil susan itu tidak menoleh, namun tubuh kurusnya terjatuh. Sedangkan dia memegang kakinya. Ranting itu menusuk sela-sela jarinya, meninggalkan darah dan luka yang memanjang. Dia bisa berjalan, namun dengan kaki satu,kaki kiri. Dan itu tidak bisa dia lakukan tanpa alat bantu lainnya,tidak seimbang.
“Udah deh, jangan ngambek. Aku gendong kok.” senyumnya mutlak menghilangkan rasa sakit, seperti obat bius.
“Coba deh kamu gak nyuruh aku kesini, pasti kejadiannya gak akan begini!” sekali lagi, suara wanita itu tampak kesal.
“Suruh siapa kamu engga pake sandal? Udah tau, halaman belakang rumah aku banyak pohon Pinus.”
“Rumah kamu kayak hutan,malah gak ada orang.”
“Emang hutan dibelakang,keren kan?”
“Ih, apaan. Serem gini.”
“Tapi aku suka.”
“Aku engga!!” nadanya ketus dibalas dengan suara tertawa yang khas. Mata si lelaki sampai mengeluarkan air mata.
Memang benar, hutan di belakang rumah ini ditumbuhi pohon Pinus. Namun sejajar rapi, ada jalan setapak ditengah hutan. Lalu ada beberapa bongsai didalam pot yang terawat. Tak jauh dari hutan,tampak dari pintu belakang terjajar rapi bunga mawar berwarna-warni. Pintu itu sedikit terbuka,menandakan bahwa hutan dan rumah tersebut memang ada pemiliknya.
Rumah ini di beri pagar, pagar yang bercat putih. Masih didalam pagar, ada kolam hias yang berisi ikan mas koki di dalam Aquarium kaca. Aquariumnya tampak terawat, pastilah sang pemilik sangat rajin membersihkannya.
Galang Ahlam Jiwatrisna, lelaki yang memiliki arti nama lelaki muda yang mencintai arti kehidupan dengan makna yang berbeda.
Wanita itu, bernama susan. Wanita yang telah dikenalnya empat tahun yang lalu ketika masih duduk di sekolah menengah pertama tepatnya dipuncaknya, kelas tiga. Garis jodoh berada di rotasi kehidupan dan tuhanlah yang menentukannya, tuhan punya banyak cara menyatukan sepasang insan.
Susan, gadis cantik yang cerewet selalu membuat jantung Galang berdekup kencang. Mereka menjalani persahabatan ketika sudah masuk di Sekolah Menengah Atas atau SMA.Namun, perasaan yang di alami oleh Galang terasa berbeda. Ia merindu bila tak jumpa, ia mengendap bila tak unggap.
Di sisi lain, berbeda dengan Susan,memang tidak ada perasaan. Banyak teman pria yang lain, dan Galang- jadi yang kesekian.
Singkat cerita, Galang menguji perasaan yang di alaminya ketika masih kelas X. Ia mulai menjauh, serta meninggalkan Susan tanpa kata. Seminggu berlalu, Susan merasa ada yang mengganjal. Dan Susan mengunjungi rumah Galang, berkali-kali. Kala itu Galang sedang masa menjauh, berusaha tak menghiraukan Susan. Namun hatinya luluh ketika Susan menelpon ibunya,mengatakan bahwa ia sangat merindukan Galang dan mencoba ingin bertemu.
Hari ke delapan, mendengar kabar burung bahwa lelaki manis yang dikenalnya itu masuk kesekolah-lagi. Susanpun datang lebih pagi dari biasanya, dia menunggu di depan gerbang sekolah hingga pukul delapan. Bedak baby powder yang menghiasi wajah putihnya telah hilang, terlihat dari sorot matanya bahwa ia sangat kecewa. Ketika hendak berbalik badan, tangannya ada yang menarik lembut. Spontan wanita yang tak suka berambut panjang ini menoleh, matanya sudah basah. Ia begitu merindu.
Galang tersenyum lalu menghapus air mata wanita yang telah di cintainya, mereka tak banyak bicara. Sudah tiga puluh menit lalu bel masuk, kemudian mereka berjalan bersama, Susan menghapus air matanya lalu mendongak keatas,melihat wajah Galang. Karena dia lebih tinggi dari Susan.
“Jadikan aku yang pertama, yang kamu cintai. Tinggalkan mereka yang sering hadir dihidupmu..” Suara Galang lirih ketika mereka berpisah kelas, Susan hanya menatap Galang dengan wajah datar. Ambigu.
****
“Masih sakit ngga?” Galang mengoleskan kapas yang telah di celupkan alkhohol untuk yang ketiga kalinya. Susan hanya mengangguk, menahan perih.
“Yaudah, aku ambilin cemilan dulu. Kamu belum makan soalnya..” Susan tidak menjawab,namun Galang telah berjalan menuju dapur. Mereka telah berada di halaman belakang yang berisi berbagai macam jenis bunga mawar,berjajar rapi, serta hutan pohon pinus yang terbentang luas dari ujung ke ujung.
Kakinya masih terasa sakit, namun raut wajahnya bahagia. Galang sangat mengerti apa yang sangat di mau oleh sang kekasih. Memberinya kejutan ketika Anniversarry yang ke tiga tahun di hutan belakang rumahnya, awalnya tidak ketebak ini rencana apa. Soalnya dari tahun ketahun, mereka hanya makan malam bersama untuk merayakannya.
Susan melirik pintu rumah Galang, lama sekali sih?  Gerutunya sebal ketika menunggu cemilan yang tak kunjung datang.
Tangannya mengambil beberapa tangkai bunga mawar yang sejak tadi berada di pahanya, lalu bunga merah itu ia hirup dan meninggalkan senyum tulus. Betapa beruntungnya ia memiliki lelaki sebaik Galang. Lelaki yang menyukai bunga mawar, menyukai berkebun dan tentunya,romantis. Romantis tanpa di duga-duga. Sebelum ia berimajinasi lebih jauh, pintu putih itu sudah di dorong oleh lelaki memakai baju khas cheff, tak lupa pula dua nampan yang berada di tangannya.
“Maaf nona, dibuat menunggu…” serunya layaknya pelayan Restaurant.
Wanita yang dihadapannya lalu beranjak ingin berjalan, namun kakinya masih sangat nyeri. Al hasil Galang berjalan satu langkah lagi mendekatinya.
“Nona, ingin yang mana? Kanan atau kiri?” tanyanya dengan senyum yang menawan.
“Ih, apaan sih kamu. Lebay.” susan mengerucutkan bibirnya.
“Ayo sayang, mau yang mana?” Susan menunjuk nampan kanan yang di tutupin oleh tutup pesaji.
“Galang, jangan sayang-sayang. Kalau mama denger gimana?” sentaknya kaget ketika mendapati dirinya dipanggil dengan sebutan tersebut.
“Mama kan pergi arisan, papa kan keluar kota. Bi ijah ga mungkin juga nguping. Kayak gak pernah muda aja. Lagian ini udah aku kasih tau tiga kali pas masih disekolah.” cerocosnya panjang lebar, kali ini karena permintaan Galang, Susan kerumahnya. Biasanya juga sering, tapi jika hari tertentu, sabtu misalnya. Sedangkan Susan, sangat tidak izinkan jika Galang kerumahnya. Alasannya papanya galak, sepertinya benar. Telah terbukti ketika Galang mengantarnya di depan gang, malamnya sudah ada tetangga yang melapor dan Susan di marahin tapi itu tak lama. Meski begitu, papa Susan sangat menyayangi anak pertamanya itu.
“Yaudah, mana makanannya? Aku laper nihh..” serunya tak sabaran ingin mengambil tutup saji itu buru-buru.
“Eits sabar dong,”
“Merem dong, biar spesial. Ini aku loh yang masak.” ujarnya sembari terkekeh lagi.
“Kamu kenapa ketawa? Mau ngerjain aku lagi? Atau gim…” belum tuntas kalimatnya, jari telunjuk galang telah berdiri di bibir tipis Susan. Nampan di tangan kanannya ia turunkan dahulu tadi.
“Udah dong sayang, kamu bawel banget. Sini tutup matanya. Dijamin kamu bakalan seneng kok sama ini..” Susan hanya terdiam, lalu mengikuti intruksi dari Galang. Susan memejamkan matanya.
“Dalam hitungan ketiga, kamu buka mata ya? Satu… dua… tig…” Galang sengaja menggantung kalimatnya, Susan mengernyitkan keningnya. “Lama banget sih?” gerutunya kesal,karena Susan bukanlah type yang romantis.
Ketika ia membuka matanya, Galang telah bertekuk lutut serta mengadahkan kedua tangannya. Susan hanya melongo, tak mengerti.
:”Ap…ap..apa ini?” tanyanya ketika bibirnya sedikit terbuka, dan ia meraih kotak kecil itu di atas tangan Galang. Susan sangat mengamati kotak kecil itu, menimang serta mengintip namun tak ada cela yang berlubang. Dan kemudian ia memutuskan membukanya,sebelumnya matanya melirik Galang yang sejak tadi tidak melarangnya bahkan tersenyum simpul.
“Hei, ngapain senyum-senyum?” seru Susan dengan nada yang dibuat-buat, sedangkan Galang mendekatinya lalu meraih kotak itu. “Kamu lama banget sih bukanya? Aku bantuin ya?” Sebelum Susan merespon kata-katanya barusan, Galang telah merampas kotak hitam kecil yang tutupnya terikat pita pink.
“Nah gini, dipake ya-“ galang membuka kotak kecil yang berwarna hitam tersebut dan mengambil isinya dengan mudah. Terdapat dua cincin putih didalamnya, kemudian masing-masing cincin melingkar tulisan Je t'aime yang berarti ‘Aku Cinta Kamu’. Mereka sering mengartikan I love you dengan bahasa yang berbeda. Dan sepertinya dalam bahasa prancis sangat menarik.
Setelah menyematkan cincin di jari manis Susan,Galang juga melingkari cincin yang telah ia beli 2 bulan yang lalu itu di jari manis tangan kanannya. Matanya kini menatap mata Susan yang sepertinya sudah mengerti arti ini semua. Kini bukan hanya kalimat manis atau janji yang terlontar begitu saja selama tiga tahun. Namun pembuktian dan perjuangan, perjuangannya ada di dalam cincin itu yang sekarang telah melingkar di jari manis kekasihnya.
“Kamu ngelamar aku Ga?” tanyanya dengan sorot mata yang berbeda. Kali ini ia tak ingin marah ataupun sensi, ia ingin membalas perlakuan romantis ini dengan balasan yang setimpal.
“Bukan sih, tapi anggap aja begitu ya? Anggap aja kita tunangan” galang tersenyum dan mengacak pelan rambut gadis yang ada di depannya.
“Bukannya terlalu dini ya? Hem..” Susan mengubah posisinya seperti salah tingkah.
“Makanya itu aku bilang, kita tunangan. Kalau lamaran nanti…lima tahun lagi, pas udah kerja…” Galang menatap Susan yang sejak tadi membuang muka ke samping kanan dan kiri.
“Kamu serius nih sama aku”
“Serius banget. Makanya aku kasih cincin itu, itu mahal loh. Belinya pake uang saku aku..” jelasnya sambil menunjuk cincin yang telah Susan pakai.
“Percuma beli mahal-mahal, kalau gak jodoh kan sayang Ga..” ungkap Susan dengan asal, sambil mengamati cincin yang terukir Je t'aime, aku mencintaimu…
Mata Galang menatapnya dengan serius, namun Susan tak sadar karena ia sibuk memperhatikan cincin itu. Tak lama, Galang menarik tangan Susan. Tangannya menggenggamnya. Lalu mata mereka bertemu, kali ini benar-benar serius.
“Gini ya sayang, sebentar lagi kita udah kuliah. Dan kita keluar dari zona yang sebelumnya, kita ngga tau. Zona baru kita itu seperti apa, bisa saja apa yang kita takutkan itu terjadi. Dan aku ngga mau itu terjadi, meski kita satu universitas tapi kita beda fakultas. Fakultas kita jaraknya cukup jauh, berbeda sekali kan dengan di sekolah…” jelasnya dengan nafas yang naik turun. Tangannya masih menggenggam tangan Susan dengan erat.
“Kalau kamu pakai cincin itu terus, cowok lain bakal mikir kamu udah punya pasangan kan? Aku engga mau aja kamu di colek cowok lain, aku aja gak pernah kok” kali ini pernyataannya membuat Susan memukul Galang dua kali.
“Yaudah, cukup segitu aja yang aku mau. Aku janji, umur dua puluh lima dan kamu dua puluh empat, aku secepatnya  ngelamar kamu.” jelasnya beruntut tentang pernikahan sore ini. Matahari mulai kemerah-merahan. Sepertinya sudah sangat sore.
“Kamu mikirnya jauh banget deh. Kita satu univ loh. Ngaco aja kalau mau selingkuh!” tegas Susan dengan melepas genggaman Galang, lalu ia melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.
“Yah..emang satu univ tapi beda jurusan. Kamu suka desain, aku suka ngitung. Kelasnya ujung keujung..” tuturnya lalu mengambil sandal miliknya di pojok kiri, agar Susan tidak mengenakan sepatunya dulu. “Pake sandal aku aja dulu..” lemparnya tepat didepan kaki Susan.
“Mau dianterin atau gimana?” tanya Galang perhatian, lalu memakaikan tas ransel milik Susan kepunggung nya. “Udah mau malem soalnya”sambungnya lagi.
Susan hanya menggeleng pelan, “Engga usah. Rumah kita searah kok. Lima belas menit aja udah sampe..” lantas Galang menyambar tangan kanan milik Susan, mereka berjalan di samping rumah untuk ke jalan raya. Ketika sampai, Susan celingak-celinguk kebingungan bahwa belum ada bis yang lewat.
“Sabar dong, baru juga dua menit nunggu..” tutur Galang seraya membetulkan rambut wanitanya yang tersangkut di ransel pink Susan. Dari kejauhan bis biru sudah bergabung dengan para pengendara lainnya. Susanpun bergegas menyetop.
“Aku pulang ya? Titip salam buat mama.” pesannya sambil memegang perutnya yang terasa nyeri.
“Kamu kenapa? Belum makan? Yaampun aku lupa…”
“Engga kok. Nyeri bulanan, dadah..” Susan berjalan pelan menaiki bis biru yang masih lenggang. Galang melihatnya tersenyum sambil mengeluarkan kata”hati-hati” namun suara itu tidak dapat ia tangkap oleh pendengaran karena bis telah berjalan jauh dari rumah Galang. Sementara Galang masih menatap belakang bis sampai bis itu menghilang di tikungan.
****
Wanita itu kini masih berdiri tegak, rasa nyeri di kakinya sudah tidak terasa. Dia melepaskan sandalnya, meninggalkannya begitu saja. Lalu berjalan memasuki gerbang pusaran. Ada nama yang menantinya, menantinya dua tahun yang lalu. Sejak insiden kejutan tiga tahun Anniversarry dan hadiahnya sebuah cincin putih. Ia tidak pernah memberi kabar pada sang kekasih, Galang.
Dia keliru jika harus mempertahankan hubungan mereka hingga ke jenjang yang lebih serius, apa lagi mereka masih terlalu belia. Namun takdir, pertemuan, dan maut ada di tangan Tuhan. Sebelum penjelasan kenapa wanita itu,Susan, pergi meninggalkan Galang tanpa kabar. Semua itu berlalu cepat, Susan mengira semuanya akan baik-baik saja dan dia akan menyelesaikannya juga dengan baik-baik saja. Padahal tahun depan dia ingin mengunjungi rumah Galang lagi. Ingin melihat bunga mawar yang selalu ia petik di pagi hari untuk Susan. Susan juga ingin melihat hutan pinus yang sempat dibencinya,seperti apa bentuknya sekarang. Semua itu hanya rencana, belum sempat dia melakukan hal itu. Galang telah memberikan kabar buruk untuknya.
Susan kini kembali menangis, sudah dua jam lebih dia berada di pusaran ini. Merenungi semua yang telah terjadi hingga ke masa lampau. Dia menuliskan kisah yang buruk untuk dirinya sendiri, namun kisah itu adalah takdir. Mau bagaimanapun juga, dia harus tetap tegar menjalani hal ini.
Susan meletakkan bunga mawar dalam jumlah yang cukup banyak, bunga mawar itu hanya dua warna;merah dan putih. Ini kali pertamanya Susan berziarah di makan mantan kekasihnya itu. Tak lupa ia mendoakan Galang, setelah itu ia merogoh kantung celana hitam miliknya, mengeluarkan secarik kertas. Dia mencatatnya sebelum kesini, karena dia takut lupa dengan apa yang mau di sampaikannya dengan galang. Kini mereka begitu dekat, namun alam mereka telah berbeda.
Hai galang, apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja ya disana, kabarku disini tidak begitu baik. Sudah lama ya kita tidak bertemu? Terakhir kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama, aku merindukanmu kala itu namun aku tidak bisa meneruskannya. Sejak tahu, harapan mu untukku begitu besar.
Galang sayang, aku selalu berdoa agar kamu selalu bahagia disana namun doaku tidak terkabul. Mama selalu memberi tahuku kalau kamu sering kerumah, bahkan tiap hari. Kamu juga tidak peduli jika papa marah, aku salut denganmu namun aku kecewa dengan diriku. Mana mungkin aku membuatmu luka dalam waktu yang sama setiap harinya?
Galang sayang, kamu jangan takut karena hatiku masih tetap untukmu. Aku tidak pernah membuka hatiku untuk orang lain,sejak pertama kali kamu mengungkapkan rasa, hatiku sudah milikmu. Buktinya adalah aku tidak pernah melepaskan cincin pemberianmu, dua tahun silam.
Aku ingin membuat pernyataan, kamu tentu masih ingatkan di hari jadi kita yang ketiga tahun? aku pulang sore,lalu kondisi perutku sangat sakit. Aku kira hanya datang bulan biasa, malamnya aku mengadu ke mama. Awalnya aku tidak percaya hal itu, namun aku terkena penyakit kista diumur tujuh belas tahun. Mama dan papa tidak mau mengambil resiko  dan kemudian esoknya aku sudah dioperasi, dan rahimku sudah diangkat. Itu alasan aku tidak datang kesekolah satu bulan, itu juga alasan aku tidak datang  ke hari perpisahan kita disekolah. Padahal disitu kita janji buat foto-foto, aku pake kebaya dan kamu pake jas.
Namun disisi lain aku tetap salah, aku meninggalkan kamu tanpa alasan dan sebab, aku minta maaf, aku menyesal dan aku sangat,sangat menyesali tindakan bodohku itu.
Seandainya aku tidak meninggalkanmu, mungkin sekarang kamu tidak begini….
Seandainya aku sedikit terbuka denganmu,mungkin sekarang kita bisa kuliah di Universitas yang sama kan? Sejak kejadian itu, aku tinggal dengan paman di bogor. Aku meninggalkanmu dengan keadaan yang rapuh, tapi aku berjanji akan kembali lagi padamu,suatu hari. Suatu hari aku akan menjelaskan kenapa aku pergi.
Keadaan kuliahku baik-baik saja, mereka teman yang baik. Aku sering menceritakanmu pada mereka, dan mereka terharu dengan perjuangan kamu untukku. Terutama saat disekolah dulu, kamu rela gak jajan demi minjemin aku uang untuk beli kanvas, padahal sejak tadi pagi kamu gak sarapan. Aku kembali sekarang, memang untukmu Galang…
Kabarmu membuatku semakin gila, aku berdiam diri, mengunci pintu dikamar dan menangis sejadi-jadinya sejak kamu telah pergi. Kamu sangat baik, kamu menolong anak kecil yang terjebak di rel kereta api, namun nyawamu yang menjadi taruhannya, aku tidak tahu kamu sedang memikirkan apa sampai semuanya begitu benar-benar kacau.
Aku juga berencana tidak ingin mengunjungimu disini, kamu taukan? Aku bakal sedih. Dan kamu pasti gak mau aku tiap hari nangis.
Galang sayang,, aku tidak tahu mengapa akhir-akhir ini hubungan kita terus dilanda masalah. Walaupun aku tau jawabannya adalah aku penyebabnya. Aku harap kamu bahagia disana, kini kita sangat begitu dekat namun alam kita sudah berbeda. Aku janji, aku akan sering main kesini agar kita berjumpa. Dan aku janji, aku selalu bawa bunga mawar yang kamu sukai.
Susan kembali berdiri, matanya sudah mulai memerah dan kelopaknya sudah membengkak. Sudah dua tahun ini, setiap hari ia menangisi Galang, tak terhitung sudah berapa jumlah air mata yang ia keluarkan. Tiba-tiba semilir angin yang lembut menyapu rambut pendeknya, matanya mengerjap, lalu dari arah yang sama angin itu menyapu wajahnya lagi.
“Ga, ini kamu ya? Kamu ada disini?” Serunya lalu tersenyum, kemudian ia berdoa dan meninggalkan surat yang tadi telah dibacanya. Setelahnya wanita itu berjalan meninggalkan pusaran yang sangat sepi, hanya ada suara burung-burung yang berkicau, Susan tidak tahu itu burung apa. Dan itu sangat tidak penting.
Susan berjalan menuju gerbang,kemudian kakinya terhenti. Ia berbalik seraya mengatakan “Aku sengaja ninggalin surat itu buat kamu,agar kamu maafin aku..” Air matanya kini telah jatuh, Susan berlari menuju mobilnya. Dan entah kenapa, kepalanya penuh dengan bayang-bayang cowok itu.

Medan,18 april 2017

Neo Astrid Tiffany

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Love Story

Kusebut Ini cinta


#partI
Semua itu datang tanpa di duga, datang tanpa rencana. Seperti di pagi yang selalu manis, aku menemukannya. Karena hidup hanya sekali, semua itu harus ku coba. Seperti hujan yang menerpa wajahku kemarin, tetesannya masih terasa di pori-pori wajahku, ku biarkan tetesan air itu menetes tanpa resah. Aku sih cewek pengagum dengan segala juta rahasia di hatiku. Aku sih cewek tanpa nama susah menjabarkan tentang isi hatiku. Tapi aku nyata tanpa fiksi, aku benar ada meski kerap hilang tanpa nama. Kehidupanku baru saja dimulai kemarin (sepertinya), aku lupa telah lama bersekolah dan sedang duduk di bangku kelas berapa aku ini? Ah sudahlah. Aku terlalu fokus padamu hingga diriku sendiri sering terabaikan, persetan dengan segala yang kuanggap sakit ini. Jangan hiraukan keberadaanku jika kau sangat terusik. Untuk saat ini,kau tidak sadar bahwa aku mencintaimu sejak dulu,Rey. “Hei wid, kamu ngapain disini ? bukannya sejak tadi udah bel masuk?” tanganku tersentak kaget, dengan spon…

Love Story

 Kusebut Ini Cinta

#partII

I knew I loved you then But you never know Cause I played it cool when I was scared of letting go I knew I needed you But I never showed But I wanna stay with you Until were grey and old Just say you wont let go Just say you wont let go Bayangku menerawang nembus kelangit-langit rumah, lagu Say You Won’t Let Go sejak tadi terus berputar dan membuat hayalan sendiri. Sore itu,kamu begitu manis. Suaramu juga masih sama ditelinga, rasanya aku memang jatuh cinta. Aku mencintaimu Rey. Widya memeluk bantal yang sedang ia timpahkan ke wajahnya, mengingat kejadian sore tadi tentunya. Rey datang ke Perpustakaan Umum, tidak disangka-sangka Lelaki Sajak itu datang menemuinya dan menanyakan pertanyaan yang formal. Nafasku begitu lega, mengingat itu semua. Aku tidak ingin melupakan sweet moment itu bagaimana pun yang terjadi. Walau nantinya aku harus menyedot ingatan tidak penting, aku akan menyembunyikan memori ini. Selamanya. Aku seperti manusia yang kehilangan akal, tersenyum sendiri…