Langsung ke konten utama

Love Story

 Kusebut Ini cinta


#partI

Semua itu datang tanpa di duga, datang tanpa rencana. Seperti di pagi yang selalu manis, aku menemukannya.
Karena hidup hanya sekali, semua itu harus ku coba. Seperti hujan yang menerpa wajahku kemarin, tetesannya masih terasa di pori-pori wajahku, ku biarkan tetesan air itu menetes tanpa resah.
Aku sih cewek pengagum dengan segala juta rahasia di hatiku.
Aku sih cewek tanpa nama susah menjabarkan tentang isi hatiku.
Tapi aku nyata tanpa fiksi, aku benar ada meski kerap hilang tanpa nama.
Kehidupanku baru saja dimulai kemarin (sepertinya), aku lupa telah lama bersekolah dan sedang duduk di bangku kelas berapa aku ini? Ah sudahlah.
Aku terlalu fokus padamu hingga diriku sendiri sering terabaikan, persetan dengan segala yang kuanggap sakit ini. Jangan hiraukan keberadaanku jika kau sangat terusik. Untuk saat ini,kau tidak sadar bahwa aku mencintaimu sejak dulu,Rey.
“Hei wid, kamu ngapain disini ? bukannya sejak tadi udah bel masuk?” tanganku tersentak kaget, dengan spontan secarik kertas dan pena jatuh tepat di kakiku.
Rey,ketua osis melihatku dengan tatapan elangnya. Aku menyambutnya dengan senyuman lembut,berharap pemandangan ini tidak ada yang mengacaunya. Lagi lagi kau buat aku ketangkap basah Rey, ketangkap basah sedang telepati dengan kertas untukmu.
“Heloo? Aku ngomong sama kamu. Udah masuk Widya” senyumnya di sponsori dengan gigi putih yang mengkilau. Aku sangat gugup, tanpa kata-kata kakiku tidak bisa di ajak kompromi. Aku berlari meninggalkan Rey yang mungkin melihatku dengan tatapan konyol.
Dasar tolol, aku mendesis sejadinya memukul jidatku yang tertutupi oleh poni selamat datang, yah beginilah tampilanku. Apa adanya, tidak mengikuti style kekinian bahkan tidak juga mengoleksi barang branded lainnya. Namun dilain sisi, imajinasi yang kuat selalu menetap didalam otak. Berkhayal bertemu Pria seperti Ji Chang Wook untuk upik abu sepertiku menjadi makanan pokok. Dan untuk sekarang, Reyhan Alvaro pria tampan bak pangeran dongeng selalu mengisi hayalan upik abu yang menderita ini.
Aku wanita biasa,mencintaimu.
****
“wid, kamu tadi kok bisa terlambat” kepalaku sedikit nyeri ketika sebuah pensil mendarat di kepala. Childish sekali anak SMA cendrawasih  sekarang, bermain kejar-kejaran, lempar-lemparan pensil. Kalau yang di lempar uang, tidak masalah. Ini hanya benda padat yang ujungnya lancip, salah sasaran pula. Dasar!
“Widyaaa!! Dipanggil dari tadi malah bengong…”
“Maaf, habisnya tuh anak lempar kepala aku pake ini,” aku mengambil pensil yang jatuh di atas meja, memang terasa nyeri. Aku mendesis untuk yang kesekian kalinya.
“Widya, lempar kesini dong pinsilnya! Itu punya aku, maaf ya?”
“Hati-hati lain kali” lemparan yang cukup memuaskan, point satu sama karena lemparanku berhasil mengenai pundaknya.
“Maaf ya, maaf” seruku merasa bersalah juga.
Tragedi pensil terjatuh di kepala hampir saja melupakan sebagian isi otak, terutama percakapan yang dimulai oleh temanku,Yaya. Gadis mungil di depanku ini sekarang sedang berkacak pinggang,kesal karena dikacangin.
”Ehh, astaga maaf ya. Ini aku terlambat karena..” Rey
“Karena apa,Wid?” Yaya masih bingung dengan kalimat gantung yang aku lontarkan barusan, mulutku masih terkatup lalu bersedia kembali untuk berbicara. Ceroboh sekali jika harus keceplosan kalau aku terlambat karena Rey, tidak ada yang tahu aku menyukainya dari dulu. Tak penting juga masalah hati ini di beberkan ke orang lain, aku tak bisa jujur kalau bukan denganmu, Rey.
“Yaa gitu, kamu tau kan , jika kota Jakarta padatnya kayak apa?” ujarku menarik nafas, lalu melirik kaca nako disampingku. Sherin yang tergopoh-gopoh membawa buku ditangannya.
Tak sampai hitungan menit, gadis hitam manis berambut ikal ini menghampiri kami yang sedang berbincang. Wajahnya sedikit pucat, dan nafasnya tidak teratur.
“Yaya,Widya…” panggilnya pelan, kami menoleh serempak. Padahal dari tadi telah menyelidikinya dari ujung rambut hingga kaki.
“Ada apa?”
“Bu tila engga dateng,”
“Alhamdulillah..” jawab kami serempak diselingi dengan kedatangan pika dengan membawa minuman fanta digenggamannya. Wajahnya yang ramah dan selalu tersenyum menandakan, ada apa ini? Kok ribut-ribut? Lagi nyeritain aku ya?
Tapi sebelum kecurigaan dia berlanjut, Yaya teman sebangku Pika yang bernama asli Maya Adinda bernick name Yaya, lebih simple katanya. Cepat-cepat memberi pernyataan yang sama “BU TILA ENGGA DATENG”
Guru pelajaran b.inggris yang suka memberikan tugas menumpuk itu kali ini tidak hadir. Entah alasan apa, jarang sekali ia tidak hadir. Setahun sekali? Atau bahkan nihil tidak hadir kesekolah.
“Ihh apaan sih? Bu tila ga hadir tapi kita di kasih tugas! Besok harus siap!!” sherin melanjutkan kata-katanya, tidak disangka-sangka kata-katanya barusan adalah lubang neraka.
****
Senyap,sepi dan hanya suara ketikan laptop yang terdengar dari ruangan besar penuh buku. Rak-raknya rapi berskat-skat dan berisi serentet buku-buku berdasarkan jenis bacaan. Warna-warni buku yang terletak pasrah menghiasi Perpustakaan Umum ini.
Hari ini adalah hari senin,Perpustakaan Umum sekarang sedang lenggang oleh pembaca yang kebanyakan anak sekolah SMA Cendrawasih. Selain jarak Perpustakaan Umum dan sekolah cukup dekat, ditambah fasilitas Ac,kantin,dan Wifi di dalamnya.
Bagi siswa yang ingin bersantai untuk refreshing ketika pulang sekolah atau ingin meminjam novel gratis dan mendapat layanan Wifi, biasanya banyak siswa datang untuk sekedar hal tersebut.
Namun beda denganku yang justru hampir setiap hari mengunjungi Perpustakaan Umum ini, aku gemar membaca dan menulis puisi. Sudah dua tahun aku melakoni perputaran hidup seperti ini. Ulang alik sekolah dan rumah cukup menguras waktu, sebelum pulang aku berjalan sedikit untuk meminjam buku ke Perpustakaan Umum atau hanya refreshing, dan menulis sajak tentangmu.
Ini bukan tentang perasaan kaku, bukan pula dengan perasaan yang ingin berani berkata jujur. Namun ini tentang sebuah pengaguman yang dikuasai sejak dulu,namun dengan segala kepecundangan juga perasaan ini menjadi sajak, bukan ungkapan.
Aku memindahkan teks bacaan dari buku cetak Bahasa Inggris, tugas dari bu Tila sangat menguras otak. Melengkapi teks yang terpotong, menyusun teks yang tak berurut dari bab writing dan reading lalu diubah menjadi makalah.
Sejak pulang sekolah tadi Aku,Yaya,Arine,dan Pika pergi ke Perpustakaan Umum berencana mengetik tugas yang diberikan dari bu Tila,kebetulan Pika membawa laptop.
“Widya, kamu engga apa-apa aku tinggalin? Soalnya aku harus pamit, mama udah jemput didepan..” Pika mengawali percakapan. Sementara Yaya dan Arine tidur diatas meja.
‘oh yaudah gak apa-apa kok, laptopnya?”
“Yaudah laptopnya kamu bawa aja dulu” aku mengangguk dan melanjutkan mengetik. Lumayan mudah, semua task sudah dijawab dan aku hanya menyalin semua text yang ada di task I,II,III,IV,dan  V di masing-masing bab writing atau reading yang harus dikerjakan.
“Arine,Yaya aku pulang dulu ya?” Pika menyambar tas miliknya yang dari tadi sudah terletak pasrah, lalu tangannya menepuk lengan Yaya. Yaya terbangun dengan mata memerah.
“Pika? Dimana dia?”
“Udah pulang.”
“Serius?”
“Heeh” tersentak Yaya yang selalu pulang dengan Pika terlihat celingak-celinguk.
‘Apaansih Ya? Ganggu orang tidur aja…”
“Widya, buatin aku makalah juga ya? Nanti aku bayar deh dua kali lipat. Aku gak biasa pulang sendiri, tega banget sih Pika”
Yaya tampak panik, serta sesekali melirik jam tangan yang selalu melingkar di pergelangan tangannya.
“Yaampun, udah jam setengah lima. Susah angkot kalau jam segini” sambungnya tergesa-gesa, lalu lari begitu saja, aku hanya fokus memperhatikan tugas yang sudah di amanahkan oleh guruku. Dan ini bukan yang pertama,mereka bertiga selalu saja “numpang”buatin makalah. Embel- embelnya selalu numpang, tapi hampir setiap hari.
‘APA?? SETENGAH LIMA? MATI KUADRAT AKU!” suaranya cempreng, gadis manis ini sibuk memainkan ponselnya,entah sedang apa yang ia lakukan. Lalu suaranya terhubung di jaringan telepon orang disebrang sana.
‘Bentar ya,tunggu lima menit lagi”
“Aku lagi di perpus nih…” sambungnya dengan raut wajah yang cemas.
“Widya? Ada kok. Kenapa ?”
“Hem, yaudah. Aku sampein.” Mendengar ada namaku disebut, kemudian akupun menoleh.
“Siapa?”
“Haikal”
 Haikal,tampan, pintar main basket,sahabatku dan dia mantan Arine. Arine masih mencintainya, sedangkan dia mencintai aku. Konyol .
“Dia kirim salam sama kamu katanya, aku pulang duluan ya? Nitip makalah juga. Duluan dahh..” wajah Arine otomatis berubah, sorot matanya berbeda. Selalu ada konflik yang berbeda diantara kami.
Tapi ayolah, aku tak pernah menganggap ini serius. Hanya sahabat sejak dulu, sejak kelas satu SMA dia yang selalu manis dan baik. Dan perjuangannya menungguku sampai sekarang sudah menunjukan bahwa dia memang hebat, menunggu selama itu. Selalu ada, setia berbagi cerita. Aku suka padanya,aku sangat menyukainya. Namun tidak cinta, aku tidak akan menyebut itu cinta. Karena cintaku,hanya miliknya. Rey
Pria sajak itu, dasar cinta pertama itu selalu membuatku bingung dengan jalan kisahnya. Bagaimana tidak? Dia tidak mengenaliku lebih jauh, bahkan tidak menyukaiku. Namun aku? Selalu saja ingin tahu tentangnya, menguntitnya jika perlu serta menghabiskan waktu untuk memikirkan atau menghayal tentang kehidupanku bersamanya. Lucu memang.
Kau memang ada,ragamu pun nyata.
Kau selalu setia mengisi jiwa.
Lantas, bagaimana rasanya mengutarakan jiwa yang rapuh padahal salah satu jiwa itu pergi?
Haruskah kumenunggu kau ada kembali? Atau memangkah duniaku hanya dirimu?
Setiap otakku selalu berlandaskanmu, karena aku tahu apa yang ku mau.
#pria sajak
Aku kembali menepuk jidat, monoton banget sih? Sedikit-sedikit mikirin dia, dia, dan dia. Terus mikirin diri sendiri kapan?
Kenapa cinta selalu ngebodohin tuannya? Cinta? Selama ini aku menyebut ini cinta? Iya, kusebut ini cinta karena kamu selalu tahan menetap di relung hati,mutlak semua ini tak bisa diganti. Bahkan rasa ini, tak bisa diganti dengan apapun.
PRAKK!! Suara buku jatuh sangat jelas terdengar oleh telinga telanjang, spontan sepasang bola mataku menyapu seluruh rak buku agar menemukan sasaran yang dituju.
Sentuhan lembut tangannya memungut beberapa buku yang jatuh, ia tampak merapikan rambutnya, lalu ber-dehem beberapa kali. Sesekali aku mendapati wajah tampannya fokus mencari sesuatu, ia memilah buku namun tidak mengambil salah satu buku tersebut.
Dan suatu ketika, mata kami bertemu.  Aku menatapnya, untuk yang keberapa kalinya. Aku sangat canggung, sesekali menatap langit-langit ruangan, ataupun fokus ke laptop tapi aku tak bisa mengalihkannya. Cinta ini sungguh mempermainkanku, aku kalah dan aku menatapnya.
Entah ini musibah atau keberuntungan, dia mendekatiku dengan senyum yang sama. Senyum semanis madu. Senyumku.
“Hai” cowok pemikat itu kini benar-benar berdiri di depanku, hanya terhalang oleh meja. Suasana sepi membuatku ingin berhenti bernafas.
“Eh,nih anak kebiasaan kalau disapa bukannya jawab. Malah melotot gitu, emang aku punya salah apa?” tanyanya sambil tersenyum samar. Kemudian Rey menarik bangku di sampingku, namun aku menahannya, dengan degupan jantung yang tak terkendali.
“Gak boleh ya Wid, duduk disini? Yaudah aku duduk didepan kamu aja deh” sekali lagi tawanya yang khas membuatku terbius.
Sialan, rasanya jantungku ingin copot karena detakan yang tak seimbang.
“Kenapa? Serius banget mandangin aku.” Jokenya terdengar jayus, lagi-lagi aku salah tingkah.
“Ngapain disini?” aduh,bodoh banget pertanyaanku. Widya yang sejak tadi terdiam, memulai berbicara namun kalimat itu bukan kalimat pertanyaan. Melainkan pengusiran.
Selang dua puluh detik kemudian Rey tertawa setelah memperhatikan raut wajahku, keringet bercucuran pula.
“Kamu memang suka greget gini ya anaknya” sekali lagi ia tertawa,sumpah ini gak lucu Rey. Perlahan tapi pasti, keringat dingin mulai membasahi rambutku. Terasa panas, udara seperti tidak bisa dihirup padahal disini ada tiga AC.
Aku menggeleng,enak saja julukin aku seperti itu. Aku begini ada sebabnya tau, makanya sekali-sekali kepoin aku dong!
“Eh, ngomong-ngomong karya 3D kamu sering banget kepilih jadi peserta mading sabtu ya?”
“Iya”
“Kalau aku liat-liat sih, kamu punya banyak bakat loh. Kenapa gak ikut gabung di OSIS aja? Jadi kamu bisa gunain ilmu kamu juga” Lanjutnya berbicara dengan wajah yang antusias ingin tau kelanjutan atau dialog yang keluar dari mulutku.
Mading sabtu itu seperti karya siswa yang di kumpulkan dari seluruh kelas, baik berupa gambar, kata-kata motivasi atau kutipan pelajaran dikelas. Para korbit di Osis akan memilihnya atau bisa disebut seleksi. Karya siapa yang tiga kali berturut-turut dipilih dalam satu bulan, ia layak mendapat hadiah yang sudah ditentukan oleh korbit masing-masing.
Kebetulan, Widya salah satu murid yang berprestasi ia sangat mahir menggambar dibidang datar bahkan diatas kanvas, semua itu dia unjuk kebolehan dengan sering mengikuti Olimpiade. Olimpiade Bahasa Inggris, Fisika atapun Jurnalistik. Namun ia tidak suka berbaur, meski tidak kurang pergaulan.
“Takut terlalu sibuk, jadinya gak ikut dulu..” sambung Widya sambil melanjutkan pengetikan.
“Engga setiap hari ngumpul kok, oh iya aku lupa kalau kamu murid emas ya disekolah kita?” lanjutnya lagi sambil ketawa cenge-ngesan. Rey itu humoris juga ternyata.
“Biasa aja tuh, kan aku gak seviral kamu ataupun Mona yang cantik bak model. Justru murid kayak aku jarang dikenal orang” cetusku asal tak memperhatikan reaksinya.
“Loh, kata siapa gak terkenal? Buktinya seorang Rey dkk, kenal kok sama Widya” dia tertawa lagi, tapi kali ini tidak lama lalu matanya sibuk mencari jam dinding.
“Jam berapa ya? Kok kayaknya mendung diluar.”
“Jam enam kali, bukan mendung tapi emang udah mau malem.”
“Aduh, udah mau malem nih. Perpus tutup jam berapa?”
“Jam tujuh malam.”
“Kamu engga pulang? Udah gak ada siapa-siapa tuh.” Rey berdiri kemudian mengembalikan buku yang sempat ia bawa tadi, lalu mendekati Widya kembali serta memakai jacket coklatnya.
Aku menatapnya, ia mendekatiku lalu merogoh saku dan mengeluarkan kunci motornya.
“Widya, pulang sama aku aja ya? Udah petang, anak gadis,kan?” Untuk yang kesekian kalinya Rey tertawa lagi,lagi dan lagi. Oh tuhan, apakah ini jawaban dari do’a yang telah hamba minta setiap hari? Ah lebay banget sih wid? Cuman dianter pulang aja udah geer.
“Wid, bengong aja? Cepetan mau atau engga?”
“Ehh, iya mau kok mau.” Ujarku sambil tergesa-gesa.
Beberapa menit kemudian aku mengambil tas di locker lalu beranjak untuk menyusul Rey di parkiran, ia sudah duluan karena aku harus berkemas tadi. Setelah sampai, Rey memunggungi arah jalanku, aku mematung beberapa detik lalu tersenyum dan berjalan lagi. Semoga ini bukan mimpi.

To be continue…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Love Story

Apologize
Pagi yang cerah untuk awal bulan September, hari ini tidak hujan. Wanita itu menggenggam secarik kertas,tertanda tulisan di dalamnya. Matanya masih terfokus lurus menatap dedaunan kering di luar kaca mobilnya. Ada rasa yang berbeda dihatinya,namun perempuan itu tetap tidak bergeming. Tatapannya lurus kosong. Ada banyak bunga kamboja yang jatuh,silih berganti semilir angin bergantian menyapunya. Wanita itu lantas membuka pintu mobilnya, tangannya mengambil bunga yang tergeletak pasrah di bangku kemudi. Kaki sang wanita memijak rumput dan dedauan kering serta mengeluarkan bunyi yang bersamaan. Lalu dibalik pohon besar,ia bersembunyi dan menggigit bibir bawahnya. Nafasnya benar-benar tak beraturan, ada sesak didalam hatinya. Ketika hendak melanjutkan perjalanan, tanpa sengaja kakinya terkena ranting kayu yang tajam. Wanita itu meringis lalu memejamkan matanya, tanpa terasa air bening keluar begitu saja dari kelopak matanya. Bukan karena sakit, namun tekanan batin yang menyiksanya du…

Love Story

 Kusebut Ini Cinta

#partII

I knew I loved you then But you never know Cause I played it cool when I was scared of letting go I knew I needed you But I never showed But I wanna stay with you Until were grey and old Just say you wont let go Just say you wont let go Bayangku menerawang nembus kelangit-langit rumah, lagu Say You Won’t Let Go sejak tadi terus berputar dan membuat hayalan sendiri. Sore itu,kamu begitu manis. Suaramu juga masih sama ditelinga, rasanya aku memang jatuh cinta. Aku mencintaimu Rey. Widya memeluk bantal yang sedang ia timpahkan ke wajahnya, mengingat kejadian sore tadi tentunya. Rey datang ke Perpustakaan Umum, tidak disangka-sangka Lelaki Sajak itu datang menemuinya dan menanyakan pertanyaan yang formal. Nafasku begitu lega, mengingat itu semua. Aku tidak ingin melupakan sweet moment itu bagaimana pun yang terjadi. Walau nantinya aku harus menyedot ingatan tidak penting, aku akan menyembunyikan memori ini. Selamanya. Aku seperti manusia yang kehilangan akal, tersenyum sendiri…